
AI dan LLM dalam Pendidikan 2026: Manfaat, Risiko, dan Kebijakan
Pada 2026, AI dan LLM dalam pendidikan mulai menjadi bagian dari keseharian belajar, tetapi manfaatnya baru terasa jika digunakan dengan literasi digital, etika, dan pendampingan yang tepat. Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat menjelaskan materi, merangkum bacaan, dan membuat soal latihan dalam hitungan detik. Perhatian kini bergeser dari kecanggihan alat ke cara alat itu mengubah kebiasaan belajar siswa, mahasiswa, dan guru.
Di Indonesia, pemerintah mulai menyiapkan rambu-rambu pemanfaatannya, sementara peneliti dan praktisi mengingatkan risiko seperti ketergantungan dan kesalahan informasi. Artikel ini merangkum gambaran umum, manfaat, perkembangan terbaru, tantangan, dan prospek AI di dunia pendidikan agar pembaca dapat menyikapinya dengan bijak.
1. AI dan LLM dalam Pendidikan 2026: Gambaran Umum
AI adalah sistem komputer yang meniru sebagian kemampuan berpikir manusia, seperti mengenali pola dan mengambil keputusan berdasarkan data. Salah satu jenisnya adalah model bahasa besar (large language model/LLM), yaitu AI yang dilatih dengan teks dalam jumlah sangat besar sehingga mampu memahami dan menghasilkan bahasa alami. LLM umumnya hadir sebagai chatbot (robot percakapan) yang menjawab pertanyaan berdasarkan prompt (perintah tertulis) dari pengguna.
Dalam pendidikan, teknologi ini dipakai untuk mendukung belajar mandiri, membantu guru menyiapkan materi, dan mengurangi beban administrasi. Kuncinya, AI diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir peserta didik.
2. Manfaat AI dan LLM bagi Pembelajaran
Sejumlah kajian menyebut AI mampu menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan setiap peserta didik. Berikut manfaat yang paling sering dibahas.
- Pembelajaran personal: materi dan kecepatan belajar dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.
- Deteksi dini kesulitan belajar: pola interaksi siswa dapat dianalisis untuk mengenali hambatan lebih awal.
- Penjelasan ulang yang fleksibel: konsep sulit dapat dijelaskan kembali dengan bahasa atau contoh yang berbeda.
- Latihan tambahan: siswa dapat memperoleh soal latihan sesuai kebutuhan belajarnya.
- Ringkasan materi: bahan bacaan yang panjang dapat dirangkum sehingga lebih mudah diulang.
- Efisiensi bagi guru: tugas administratif dan penyusunan bahan ajar terbantu sehingga waktu untuk membimbing siswa bertambah.
- Pembelajaran sepanjang hayat: AI dapat menjadi sarana belajar mandiri di luar kelas.
3. Perkembangan Terbaru di Indonesia
Tahun 2026 ditandai oleh langkah kebijakan dan inovasi ruang kelas yang menempatkan AI sebagai bagian dari pendidikan formal.
Pedoman lintas kementerian
Pada 12 Maret 2026, tujuh kementerian menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang pedoman pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta AI di jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Tujuannya menjaga agar penggunaan teknologi sejalan dengan pelindungan anak dan peningkatan kualitas pembelajaran.
Pembelajaran mendalam dan mata pelajaran Koding dan AI
Kemendikdasmen juga mengarahkan pembelajaran nasional pada pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam) dan pengenalan mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial. Dengan demikian, AI tidak hanya dipakai sebagai alat, tetapi juga dipelajari sebagai bidang pengetahuan.
Inovasi dari ruang kelas
Di tingkat sekolah, sejumlah guru mulai memanfaatkan AI, misalnya seorang guru di SMA Negeri 1 Sendawar, Kutai Barat, untuk pembelajaran fisika. Contoh seperti ini menunjukkan bahwa peran guru tetap penting dalam mengarahkan penggunaannya.
4. Tantangan dan Risiko Penggunaan AI
Di balik manfaatnya, penggunaan AI tanpa panduan dapat menimbulkan masalah akademik, sosial, dan psikologis. Risiko berikut perlu diwaspadai oleh mahasiswa, guru, dan orang tua.
- Ketergantungan pada AI dapat melemahkan kemampuan berpikir analitis dan mengerjakan tugas secara mandiri.
- Kecurangan akademik dapat meningkat jika jawaban AI disalin tanpa dipahami.
- LLM dapat menghasilkan hallucination (jawaban keliru yang tampak meyakinkan) sehingga memicu miskonsepsi.
- Interaksi yang intens dengan chatbot berpotensi menimbulkan ketergantungan emosional pada sistem non-manusia.
- Manipulasi digital, seperti pemalsuan gambar, suara, dan narasi, dapat merusak reputasi seseorang.
- Literasi digital AI sebagian siswa belum memadai untuk menggunakan AI secara kritis dan beretika.
- Kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, dan kebijakan sekolah perlu dipastikan agar penerapan AI berjalan optimal.
5. Prospek dan Cara Menyikapinya
Ke depan, AI dan LLM kemungkinan makin terintegrasi dalam pembelajaran sehingga kemampuan memakainya secara kritis akan menjadi bagian dari literasi dasar. Penelitian pendidikan menekankan perlunya literasi digital AI yang dibangun sistematis melalui pembiasaan di kelas. Kerja sama pemerintah, sekolah, masyarakat, dan keluarga dinilai penting untuk menekan dampak negatifnya.
Mahasiswa dapat memakai AI untuk memahami konsep lalu memverifikasi jawabannya dengan sumber tepercaya. Guru dapat merancang tugas yang menuntut proses berpikir, sedangkan orang tua dapat mendampingi anak dan membahas batas penggunaan bersama-sama.
Kesimpulan
AI dan LLM dalam pendidikan 2026 membuka peluang pembelajaran yang lebih personal dan efisien, namun juga membawa risiko ketergantungan, kesalahan informasi, dan manipulasi digital. Pedoman pemerintah dan penguatan literasi digital AI menjadi fondasi agar teknologi ini mendukung, bukan menggantikan, proses belajar. Jadikan AI sebagai mitra belajar, dan biasakan selalu memeriksa serta memahami setiap jawaban yang diberikan.
Referensi
- “Memahami Pendekatan Deep Learning dan Mapel Koding AI: Arah Baru Pendidikan Indonesia.” https://www.greatnusa.com/article/memahami-pendekatan-deep-learning-dan-mapel-koding-ai
- Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, Kemendikdasmen. “Minimalisir Dampak Negatif Penggunaan AI di Sekolah, Perlu Kerjasama Semua Pihak.” https://puslapdik.kemendikdasmen.go.id/minimalisir-dampak-negatif-penggunaan-ai-di-sekolah-perlu-kerjasama-semua-pihak/
- Jurnal Japendi. “Dampak Artificial Intelligence (AI) Terhadap …” [PERLU VERIFIKASI: judul lengkap dan penulis]. https://japendi.publikasiindonesia.id/index.php/japendi/article/download/8433/1958/18509
- Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FKIP Universitas Lampung, 2026. https://jurnal.pbs.fkip.unila.ac.id/index.php/prosem/article/download/1719/900/13667
- Suara.com. “Ketika Guru Hadirkan Cara Baru Belajar Sains hingga Literasi, dari Bioplastik sampai AI,” 1 Oktober 2026. https://www.suara.com/lifestyle/2026/10/01/090325/ketika-guru-hadirkan-cara-baru-belajar-sains-hingga-literasi-dari-bioplastik-sampai-ai